Selasa, 11 Agustus 2009

Habib Rizieq : "Ini Negara Mafioso!"

Wawancara Habib Mohammad Rizieq Syihab dengan wartawan Hidayatullah, saat beliau masih berada di balik jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta, 2003
“Apa ini negara preman? Apa negara kita ini mau jadi republik mafia?” Begitu kata Habib Mohamad Rizieq Syihab, menanggapi tingkah laku anak buah pengusaha Tommy Winata yang bernama David A Miau di Polres Jakarta Pusat (Jakpus), sekitar Maret 003. Saat itu sedang ada ketegangan usai terjadi penggerebegan kantor majalah Tempo oleh anak buah Tommy. David mengaku sebagai penyumbang Polres Jakapus, dari uang hasil judi. Dia juga mengaku mampu mengatur Kapolda Metro Jaya. Sebagai buktinya, saat itu David menyuruh Kapolda untuk bicara dengan Kaplores Jakpus via telepom genggam.
Komentar pedas itu menyeret Habib Rizieq ke pengadilan. Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) ini didakwa telah melakukan penghasutan dan penghinaan terhadap pemerintah (dalam hal ini jajaran kepolisian). Kebetulan, saat itu Habib masih dalam status penangguhan penahanan akibat kasus serupa yang terjadi tanggal 3 Oktober 2002.
Senin, 21 April 2003, Habib secara sukarela menyerahkan diri ke Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta. Persidangan segera digelar, dan akhirnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 7 bulan penjara potong masa tahanan (11 Agustus 2003).
Meski berada di balik jeruji besi, Habib Rizieq tak berubah. Suaranya tetap lantang. Sebagai seorang juru da’wah, dia juga terus mengajar. Bahkan kini dia telah mendirikan khusus untuk narapidana. Namanya Pesantren At-Tawwabin, bahu-membahu dengan Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustadz Abubakar Ba’asyir yang kini juga berada di Rutan Salemba. “Santrinya telah mencapai 700-an orang,” ujar Habib.
Apa saja yang dilakukannya di penjara? Bagaimana pula pandangannya terhadap berbagai bentuk kemaksiatan dan premanisme yang kini merajalela? Habib Rizieq bicara panjang lebar kepada Cholis Akbar dan Pambudi Utomo dari majalah Hidayatullah, yang mengunjunginya selama beberapa kali. Pria yang selalu mengenakan surban ini juga berbicara tentang pengalamannya hidup di penjara. “Seperti di Taman Mini Indonesia Indah,” katanya.
Bagaimana keadaan Anda selama di penjara?
Alhamdulillah, seperti yang Ente lihat, ana baik-baik saja. Sebelum dipenjara ana biasa mengajar, di sini pun begitu. Dari pagi sampai sore mengaji bersama narapidana (napi).
Tetap aktif berda’wah?
Seperti kata Ibnu Taimiyah. Bagi seorang mujahid, hidup di bumi itu biasa, kalau hidup di penjara itu uzlah, kalau dibuang dari negerinya berarti tamasya. Ikhwan-ikhwan yang sekarang sedang ditangkapi Amerika Serikat (AS) berarti mereka punya kesempatan untuk uzlah dan tamasya. Jadi, dinikmati saja.
Bagaimana perasaan Anda ketika menerima vonis?
Tidak ada yang istimewa, sebab vonis itu memang sudah ana perkirakan. Itu kan sidang dagelan. Ana juga tidak merasa sakit hati atau apa. Semua terserah Allah.
Bagaimana respons napi terhadap aktivitas da’wah Anda?
Luar biasa. Dari 1800-an tahanan Muslim, yang aktif mengaji sekitar 700-an orang. Kalau di luar, mereka enggan mengaji karena sering dikucilkan masyarakat. Pengurus masjid pun enggan bergaul dengan mereka. Kalau di dalam penjara kan statusnya sama. Jadi ya enjoy saja.
Mereka sebelumnya tidak pernah shalat, atau cuma shalat pas hari Jumat. Sekarang sudah rutin. Yang tadinya tidak bisa mengaji, sekarang bisa mengaji. Kegiatan ini malah seperti jadi hiburan, di tengah rutinitas di penjara yang membikin sumpek.
Materi apa yang diajarkan?
Ada akhlaq, fiqih, syariat, tetapi masih tingkat pemula. Ada pula yang sedang belajar iqra’. Ana dibantu oleh napi lain yang pernah belajar di pesantren. Selain itu, ada acara tanya-jawab, tentang masalah apa saja.
Saat acara tanya-jawab, pertanyaan semacam apa yang biasa mereka lontarkan?
Mulai pertanyaan serius sampai yang konyol. Misalnya, bagaimana cara bertaubat bagi dirinya yang sudah sering merampok dan membunuh orang? Ada yang konyol, seperti bagaimana hukumnya kalau memperkosa anak setan? Ha…ha…ha…
Bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu?
Usahakan agar mereka selalu optimis. Bagi yang ingin bertaubat, masya Allah, dia akan dicintai Allah. Orang yang baik itu bukanlah orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang mau bertaubat memperbaiki kesalahannya. Begitu kira-kira yang sering ana sampaikan. Jangan buru-buru bicara tentang neraka, mereka malah akan kabur.
Dalam kenyataannya, orang eks penjara malah bisa jadi bertambah kejahatannya. Anda melihat itu juga?
Anggapan itu tidak salah. Maaf kalau ana agak kasar. Penjara memang lebih tepat dikatakan sebagai Lembaga Pembinatangan (manusia), bukan Lembaga Pemasyarakatan. Di sini berlaku hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Yang namanya pemerasan, penganiayaan, itu cerita harian.
Penjahat yang masuk penjara malah berkesempatan belajar kepada seniornya. Tadinya cuma copet, begitu keluar malah jadi rampok. Tak heran banyak yang enjoy keluar-masuk rutan. Di sini ada napi yang sampai 16 kali keluar masuk penjara.
Begitulah napi yang tidak pernah dapat sentuhan Islam. Makanya ana usulkan agar Departemen Kehakiman dan HAM tidak cuma mengurusi masalah fisik seperti makanan dan pakaian. Urusan ruhani juga harus diperhatikan. Semestinya ada kerjasama dengan instansi semacam Departemen Agama dan ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Hidayatullah, Al-Irsyad, dan semacamnya.
Adakah kendala yang Anda hadapi selama menjalankan roda pesantren di penjara?
Alhamdulillah relatif tidak ada kendala. Malah beberapa LP seperti di Cirebon dan Tangerang ingin mencontohnya. Di Tangerang telah terbentuk komunitas Pesantren At-Tawwabin berkat usaha napi asal Salemba yang dioper ke sana. Aktivitas mereka juga didukung Kepala LP. Ana diminta agar pindah ke sana agar bisa mengajar. Namun tanggung, insya Allah ana kan sebentar lagi bebas. Alhamdulilah beberapa ustadz sudah diundang ke sana, seperti Arifin Ilham, Dadang Hawari, Ja’far Umar Thalib.
Akan sangat bagus kalau rintisan di Salemba ini bisa jadi proyek nasional. Rasanya tidak sulit. Tempat sudah tersedia, santri banyak dan siap, makan gratis. Tinggal ditaruh ustadz saja, tentu akan mau disuruh mengajar di LP. Mau apa lagi? Tapi jangan lantas ustadz ditangkapi melulu, supaya bisa mengajar di penjara. Ha…ha…ha…
Sekarang memang banyak juru da’wah yang ditangkapi?
Ana sudah bicara tentang penangkapan dan penculikan aktivis sejak setahun yang lalu. Tanggal 5 Oktober 2002 ana berdebat di televisi dengan petinggi Polda Metro Jaya. Saat itu beberapa aktivis FPI ditangkap, dan ana katakan itu sebagai penculikan. Barangkali tersinggung dengan ucapan itu, Mabes Polri dan Polda Metro Jaya menuntut. Katanya, ana dianggap menghina pemerintah (polisi) dan menghasut. Inilah pasal yang kelak digunakan untuk menjebloskan ana ke penjara.
Saat ini banyak aktivis Islam dan para dai diculik. Kalau dulu cuma ana dan beberapa gelintir orang yang bersuara, sekarang anggota dewan, para ulama, dan politisi serempak menuding itu sebagai penculikan.
Anda punya imbauan untuk para juru da’wah yang kini di penjara?
Jangan takut mendengar kata “penjara”. Penjara itu cuma seperti ombak di lautan. Kalau dilihat dari jauh tampak bergulung-gulung mengerikan. Kita mungkin punya persepsi akan binasa kalau digulung ombak itu. Tetapi kalau kita berada di atasnya, semisal naik perahu, ternyata Cuma goyang sedikit. Malah bisa kita nikmati sambil terkantuk-kantuk. Resepnya adalah tetap istiqomah dan tidak surut untuk berda’wah.
Jangan pula beranggapan bahwa karena dipenjara lantas kita menganggap da’wahnya gagal. Nabi Zakariya dan Nabi Yahya as yang terbunuh pun tidak gagal. Apapun yang terjadi, katakan bahwa yang haq itu haq. Itulah keberhasilan atau kemenangan da’wah yang sesungguhnya.
Anda bersama Ustadz Ja’far Umar Thalib dan Ustadz Abubakar Ba’asyir adalah juru da’wah yang mula-mula ditangkap. Menurut Anda, kenapa begitu?
Kami bertiga adalah orang yang cukup keras melawan Amerika Serikat (AS). Banyak ulama yang bersuara keras, tetapi kami lebih mudah ditangkap karena ada pintunya. Ustadz Ja’far melalui pintu kerusuhan di Ambon. Ustadz Abu cukup gencar mengkampanyekan gerakan anti-Amerika. Sedangkan ana gencar menghantam tempat-tempat maksiat dan juga kampanye anti-Amerika. Melalui pintu-pintu itulah kami ditangkap.
Selanjutnya kira-kira siapa? Ini yang perlu diingatkan kepada kaum Muslimin dimanapun. Jangan beranggapan bahwa cuma orang-orang yang dicap radikal seperti ana, Ustadz Ja’far, dan Ustadz Abu yang akan ditangkap. Suatu saat nanti orang yang kini dianggap moderat pun akan memperoleh giliran.
Seorang Muslim pasti akan bicara tegas terhadap kepongahan AS dan konco-konco-nya. Sekarang ini hampir semua tokoh Islam bersuara senada. Nah, siapapun yang menentang kebijakan polisi dunia itu, potensial juga untuk ditangkapi. Giliran Ustadz Ja’far, Ustadz Abu, dan ana sudah. Orang yang pernah berjihad di Afghanistan, Ambon, dan Poso juga sudah. Lainnya tunggu saja.
Selama di penjara, apa saja yang Anda lakukan bersama Abubakar Ba’asyir?
Kami tiap hari ketemu, kadang menerima tamu bersama-sama. Kami berdua juga bagi tugas mengajar para napi. Ana dapat jatah hari Senin sampai Rabu, Ustadz Abu hari Kamis sampai Sabtu. Kami banyak diskusi.
Tentang apa?
Banyak, terutama yang menyangkut penegakan syariat Islam. Ana banyak mengambil manfaat dari pengalaman Ustadz Abu. Beliau ini memang sikapnya keras dalam arti teguh memegang prinsip. Tetapi terhadap orang yang berbeda pendapat, dia sangat toleran. Baik sekali orangnya.
Bukankah selama ini Abubakar Ba’asyir dicitrakan sebagai teroris yang sangat berbahaya?
Berbeda 180 derajat. Itu semua kan fitnah. Sama halnya dengan penangkapan aktivis saat ini, juga penuh fitnah. Kalau mereka pernah ke Afghanistan, Ambon, Poso, apa berdosa? Kita ingin membantu saudara sesama Muslim yang sedang kena teror. Di Ambon kita nyaris kalah, tapi akhirnya bisa unggul. Ini rupanya menimbulkan sakit hati di kalangan mereka. Termasuk engkong-nya di AS sono. Karena sakit hati, para mujahid dicari. Tetapi kalau cuma berdasar kasus Ambon, kan alasannya sulit diterima. Ditariklah ke Afghanistan, atau Moro. Ini yang dijadikan pintu masuk.
Suasana penuh gelak tawa selalu mewarnai keseharian Habib Rizieq dan Abubakar Ba’asyir. Tak ada guratan lara meskipun keduanya hidup di penjara. Ketika Hidayatullah mewawancarai Habib, kebetulan keduanya sedang terlibat perbincangan seputar kedatangan Presiden AS George W Bush ke Bali.
“Mungkin George Bush akan membezuk Ustadz Abu di sini,” seloroh Habib. “Yah, barangkali ingin ketemu langsung, seperti apa sih Abubakar Ba’asyir itu?”
“Kalau dia ke sini, akan saya kethak (jitak --red) kepalanya,” jawab Abu enteng.
Di kesempatan lain, keduanya juga bernostalgia. Salah satunya ngobrol tentang mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang pernah meminta Kapolri agar menangkap keduanya.
“Kabarnya, Gus Dur tahu bahwa Ustadz Abu kemana-mana selalu membawa pedang. Bisa bahaya kan?” lagi-lagi Habib melempar umpan.
“Iya, wartawan tanya apa betul saya sering bawa pedang. Saya jawab, ke mana-mana saya selalu membawa buku tauhid. Mungkin jin milik Gus Dur melihat buku itu seperti pedang, dan itu dilaporkan kepada tuannya,” jawabnya sambil terkekeh.
Rupanya, dua tokoh ini punya hobi yang sama, yaitu membaca buku. Sel Habib di Blok R Rutan Salemba penuh buku, sehingga mirip perpustakaan. Saban hari ada saja “santri” yang membaca-baca bukunya.
Tidak cuma mendirikan perpustakaan. Habib juga telah menulis 4 buah buku. Judulnya Munajat, Kumpulan Do’a dari Para Aulia’ dan Anbiya’; Suara dari Penjara (Pledoi); Kumpulan Do’a Qur’an dan Hadits; Diary Amar Ma’ruf Nahy Munkar (Seputar Keraguan Amar Ma’ruf Nahy Munkar). Ketika wawancara berlangsung, buku-buku tersebut sedang dalam proses penerbitan.
Kehidupan di luar penjara juga tak luput dari perhatian Habib. Dari dalam penjara, instruksi Habib terus mengalir ke tubuh FPI yang kini tengah giat mengawasi tempat-tempat hiburan dan maksiat. Ia bahkan menyempatkan diri mengirim buku berjudul Jakarta Undercover kepada Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar. Buku itu berisi kebobrokan dunia hiburan di Jakarta. “Agar polisi tahu, bahwa kemaksiatan sudah merajalela dan harus segera diberantas,” harapnya.
Selama Anda di penjara, bagaimana aktivitas FPI?
Tetap seperti biasa. Itu artinya FPI tidak mati kan? Padahal kalau ana di penjara, diharapkan aktivitas FPI akan mati, ana stress, atau dikerjain oleh para preman yang dulu sering bentrok sama FPI. Alhamdulilah, Allah menghendaki lain. FPI tetap eksis, ana bisa enjoy, dan para preman justru menjadi santri. Ha…ha…ha…
Bagaimana respons para pengusaha hiburan ketika tahu Anda dipenjara?
Menurut berita dari informan kami yang memantau tempat maksiat, malam itu begitu ana ditangkap, hampir semua pengusaha diskotik di Jakarta menggelar pesta minum gratis. Para preman berteriak, “Merdeka!”
Aneh bukan? Para aktivis masjid ditangkapi, hanya karena “diduga” terlibat tindak terorisme dan segala macam itu. Tetapi para mafia judi, pengusaha pelacuran, dan pengedar narkoba itu tidak cuma “diduga” saja. Benar-benar sudah melakukannya. Kenapa tidak ditangkap?
Anda punya buktinya?
Lho, ana bisa tunjukkan kepada Kapolri, Kapolda, atau siapa saja yang tidak percaya atau terus membantah. Kalau perlu ayo kita menyamar dan melihat tempat-tempat maksiat itu, melihat rolet (jenis permainan judi --red), transaksi narkoba, atau striptease (tarian telanjang --red). Tidak perlu lah menutup mata.
Menurut pengamatan Anda, kenapa aparat tidak memberantas tempat-tempat maksiat seperti itu?
Menerima setoran. Memang cukup sulit menunjukkan bukti hitam di atas putih. Tidak ada kuitansi karena semua dilakukan dengan kontan. Tetapi marilah kita berpikir logis saja. Maaf nih, sekali lagi maaf, ana tidak bermaksud menyentil persoalan SARA. Mana mungkin golongan minoritas seperti Tionghoa-kafir berani menabrak seperangkat perundang-undangan negeri kita, kalau tidak dilindungi oleh penguasa pribumi? Tidak mungkin! Omong kosong kalau tidak ada backing-nya.
Anda pernah mengajukan bukti-bukti kepada aparat sehubungan dengan praktik seperti di atas?
Sudah tidak terhitung. Contoh terbaru, tanggal 8 September 2003 FPI secara resmi lapor kepada Kapolres Jakarta Pusat bahwa di Mangga Dua ada bisnis judi. Juga tentang lokasi maksiat di kawasan Ancol, Gajah Mada, dan Hayam Wuruk, Lokasari, Pluit, dan Kelapa Gading. Kami tunjukkan bukti-buktinya, lengkap dengan foto-foto. Ternyata laporan kami tidak diladeni. Padahal mereka kan punya kemampuan untuk menutup tempat-tempat maksiat yang melanggar undang-undang itu. Aparat lebih senang menggusur rumah rakyat yang ilegal. Lha ini tempat maksiat kan juga ilegal, dan jelas banyak mudharatnya. Aparat semestinya juga membuldozer tempat-tempat maksiat itu dong! Jangan malah dilindungi.
Uang haram itu sekarang juga mengalir ke partai-partai setan yang kini siap-siap menyongsong Pemilu 2004. Makanya aktivis partai Islam harus mendukung perjuangan saudara-saudara seiman dalam memerangi tempat maksiat.
Partai setan itu yang mana?
Partai-partai yang enjoy sama maksiat dan menentang penegakan syariat. Sudah tahu kan? Makanya mereka akan berusaha mempertahankan bisnis maksiat ini paling tidak sampai Pemilu yang akan datang. Mereka memakai cara-cara preman dan backing-backing-an.
Anda punya pengalaman pribadi yang bisa menggambarkan adanya fenomena backing-backing-an itu?
Kasus Tempo bisa jadi contohnya. Ana hantam Tommy Winata dan kami tantang perang dia. Tommy sih tampaknya nggak marah. Tetapi yang marah justru (maaf) “buldog dan herdernya”. Makanya ana diseret ke penjara.
Media massa seperti Tempo selama ini sering menilai miring aktivitas FPI, tetapi Anda justru menjadi pihak pertama yang menunjukkan simpati. Alasannya?
Media semacam Tempo dan Kompas tidak cuma menilai miring, tetapi mukulin. Jadi ana tidak bersimpati pada Tempo-nya, tetapi kebebasan persnya. Pers berada di posisi yang mazhlum (terzhalimi) maka harus dibela. Ini kan ajaran Islam. Kami tahu, Tempo tampaknya memang media yang anti-Islam. Tetapi Allah mendidik kita untuk memperhatikan orang yang terzhalimi.
Menurut Anda, premanisme terhadap pers merupakan gejala apa?
Tempo kan termasuk media besar. Kalau Tommy bisa melakukan tindakan premanisme terhadap kelompok media yang kuat, apalagi terhadap kelompok media yang lemah? Bagaimana kepada media Islam, yang umumnya tidak sebesar Tempo? Tindak premanisme ini harus dipangkas. Kalau tidak, republik ini akan dikuasi oleh mafia. Dan jaringan mafia di Indonesia sudah menggurita karena mereka kebanyakan sudah punya anak didik.
Maksudnya?
Begini. Orang-orang semacam Tommy sering menjadi “bapak asuh” sejumlah pejabat yang kelak akan memimpin pos-pos strategis negeri ini. Mereka memberi beasiswa. Begitu sang pejabat ini lulus, tentu akan selalu ingat kepada “bapak”-nya. Jangan kaget kalau ada aparat, jaksa, atau hakim yang bisa patuh pada kemauan para koboi. Mereka menguasai semua jalur hukum. Bahkan telah menjadi rahasia umum, orang-orang itu akan menyiapkan sogokan kalau si pejabat ingin naik pangkat. Inilah Republik Mafioso. Dan inilah yang akan diperangi oleh FPI.
Kekuatan mereka luar biasa. Selama lima tahun FPI sering mengirim surat kepada Gubernur DKI Jakarta, misalnya berisi permintaan penutupan tempat hiburan. Tetapi tak satu pun yang pernah dibalas. Sementara kalau pengacaranya Tommy yang kirim, misalnya dalam kasus perseteruan dengan Tempo, dalam sehari langsung dibalas. Ada apa di negeri kita ini?
Anda tetap bersuara keras. Nanti bisa ditangkap lagi lho!
Ana nggak kapok. Kita tidak perlu takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.
Anda juga punya backing ya?
Alhamdulillah, kami memang punya. Dan backing FPI hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kabarnya Anda dekat dengan beberapa petinggi militer?
Ana mengenal dekat mantan Kapolri Jenderal Roesmanhadi, juga petinggi militer seperti Jenderal (Purn) TNI Wiranto, Mayjen TNI Djaja Suparman, dan beberapa nama lagi. Perkenalan kami terjadi sejak peristiwa Ketapang (1999), dimana saat itu FPI turut terlibat melawan preman.
Dalam kapasitas sebagai Ketua Umum FPI, ana juga pernah diundang ke Cilangkap (Markas Besar TNI AD red). Misalnya saat diminta masukannya tentang penyelesaian kasus Aceh. Awalnya TNI akan mengunakan istilah Operasi Rencong. Ana memberi saran, jangan memakai nama itu, sebab bisa menyinggung perasaan orang Aceh. Ana juga minta agar Polwan dan tentara wanita di sana memakai jilbab. Alhamdulillah, saran-saran itu diterima. Begitulah kedekatan ana atau FPI dengan mereka, tak lebih dari itu.
Sejauh mana peran mereka di FPI sekarang?
Mereka sering memberi masukan, tak jarang pula mengkritik. Misalnya mereka sering memprotes kenapa laskar FPI di lapangan kok suka mengempur tempat maksiat. Ana jawab saja bahwa dalam hal ini ya kita berbeda pandangan. Sampai sekarang hubungan kami tetap dekat. Tetapi alhamdulillah, ana termasuk orang yang tidak bisa kerasan bila duduk berlama-lama di kursi milik pejabat. Pantat ana terasa panas.
Oh ya, kalau Anda bebas lalu bertemu polisi yang menangkap atau majelis hakim yang menjatuhkan vonis, sikap Anda akan seperti apa?
Maunya Ente seperti apa? Mau pelukan? Tonjokan? Atau apa? Ana bingung menjawab pertanyaan yang ini. Ha…ha…ha... Ana akan ingatkan mereka agar ittaqullah (taqwa kepada Allah). Para pejabat, menteri, penguasa, takutlah kalian pada Allah. Mereka bisa saja menindas kita, bisa membohongi rakyat, tapi mereka tidak akan bisa menipu dan membohongi Allah.
Habib Mohammad Rizieq Syihab lahir di Jakarta 38 tahun yang lalu. Pendidikan dasar sampai menengah atas dihabiskan di kota kelahiran. Sempat mencicipi kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) selama setahun (1983). Kemudian menempuh studi di Jurusan Dirasat Islamiyah (Islamic Studies) Fakultas Tarbiyah Universitas King Saud Riyadh atas beasiswa dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Ia lulus dengan predikat cum laude.
Tahun 1990 mendapat beasiswa lagi, kali ini untuk menempuh master di Universitas Islam Antar-Bangsa, Malaysia. Namun dia cuma kuat beberapa bulan di sini. “Ana merasa sayang karena terpaksa harus absen berda’wah di tanah air. Ana juga tidak mau meninggalkan keluarga. Jadi ya balik saja,” alasannya.
Keluarga yang dimaksud adalah Syarifah Fadlun Yahya, sang istri, yang saat itu harus merawat dua putri yang manis-manis. Habib-Syarifah menikah tanggal 11 September 1987. “Jadi kalau ada peringatan tragedi WTC, itulah saat milad pernikahan kami,” kata Syarifah.
Kini (saat diwawancara, red), pasangan harmonis ini telah dikaruniai 5 putri, yaitu Rufaidah (11), Humairah (10), Zulfa (7), Najwa (5), dan Mumtaz (2,5). “Yang nomor 6 namanya Insya Allah, sebab masih ada di perut,” ujar Habib disambut tawa sang istri yang kini tengah hamil tua.
Paling tidak 2 kali seminggu keluarga Habib bezuk di Rutan Salemba. Beda dengan umumnya keluarga narapidana yang dirundung kegalauan, Syarifah dan anak-anak tampak santai saja. “Kami paham, ini risiko amar ma’ruf nahi munkar. Jadi ya dijalani dengan biasa saja,” kata Syarifah lagi.
Najwa, putrinya yang ke-4, sering ditanya teman-teman sekolah, “Abahmu kemana, kok tidak pernah kelihatan?” Dengan enteng si kecil ini menjawab, “Biasa… di penjara.” Sementara Mumtaz yang baru belajar bicara, akan girang hati kalau mau bezuk dan sudah sampai di gerbang Rutan Salemba. “Sampai di sekolah abah ya!” ujarnya polos. Setahu Mumtaz, Habib saat ini sedang mengajar. Maka dia menyebut penjara sebagai sekolah.
Bila keluarga ini sudah kumpul, suasananya jadi riuh rendah. Kelima anak itu akan bergelayut erat di pundak, tangan, dan kaki Habib. Lalu masing-masing bercerita tentang kegiatannya di sekolah atau di rumah. Acara bezuk itu tak ubahnya wisata keluarga.
Dalam kondisi seperti saat ini, apa yang biasanya Anda nasihatkan kepada keluarga?
Biasa saja, tidak ada yang khusus. Tentang akhlaq dan kehidupan sehari-hari. Itu saja. Itu ana sampaikan sewaktu mereka bezuk, kadang tiap hari, dua hari, atau seminggu sekali. Sekarang istri ana sedang hamil. Jadi kalau pas tidak enak badan ya tidak bisa ke sini.
Bagaimana menjelaskan keadaan Anda saat ini kepada anak-anak yang masih kecil?
Anak-anak sudah paham dengan aktivitas ana dan berbagai macam risikonya. Paling-paling yang sering tanya si Mumtaz, kok abah tidak pulang-pulang? Umminya menjelaskan bahwa ana sedang mengajar. Dia bisa paham karena ana biasa mengajar di luar kota dan kadang menginap sampai seminggu. Tapi kok sudah lama tidak pulang? Makanya kalau dia bezuk, biasanya akan pesan, “Abah ngajar-nya jangan lama-lama dong!”
Bagaimana cara mendidik anak-anak agar paham dengan aktivitas Anda?
Tidak ada penjelasan khusus. Biasanya ana memberi penjelasan kalau mereka bertanya. Yang bisa membuat mereka paham adalah melibatkan secara langsung. Anak-anak kadang ikut rapat pengurus FPI, atau ikut menggerebeg tempat maksiat yang relatif tidak berbahaya. Dari sinilah mereka bisa paham, o begitu ya kegiatan abah. Oleh karena itu mereka tidak merasa minder atau malu meskipun ayahnya dipenjara.
Saat ini kehidupan masyarakat penuh dengan kegiatan berbau maksiat, misalnya lewat televisi. Bagaimana mengontrol anak-anak agar terhindar dari perilaku maksiat?
Ini memang masalah yang berbahaya. Ana tidak melarang anak-anak menonton televisi. Bahkan ana beli televisi berukuran cukup besar untuk mereka. Namun ana menjadwal secara ketat kegiatan mereka sehari-hari.
Pagi sampai siang di sekolah. Pulang sekolah, ada ustadzah yang mengajarnya di rumah. Ba’da Ashar, anak-anak kursus di luar, ada yang kursus komputer, Bahasa Inggris, dan berenang. Maghrib sampai Isya’ mengaji bersama ana dan istri lalu makan malam. Usai Isya’, mereka sibuk mempersiapkan pelajaran esok hari. Sampai sekitar pukul 21.00, anak-anak sudah mengantuk lalu tidur begitu saja. Jadi tidak sempat nonton televisi kan?
Apakah anak-anak tidak merasa capai dengan jadwal yang begitu padat?
Tiap Sabtu dan Ahad anak-anak selalu ana ajak rekreasi, misalnya ke kebun binatang, ke Puncak, atau ke Taman Mini. Pokoknya aktivitas di luar rumah bersama keluarga. Alhamdulilah, anak-anak tidak ada masalah.
Bagaimana sekarang ketika Anda di penjara?
Mereka ya rekreasi di penjara. Anak-anak akan membawakan makanan lalu kami makan ramai-ramai. Mereka bertingkah seperti di tempat wisata. Ada yang kejar-kejaran, main petak umpet. Penjara ini rasanya seperti di Taman Mini Indonesia Indah saja. Ha…ha…ha…

Sisi yang Tidak Diekspos Media Tentang FPI

Front Pembela Islam (FPI) sebenarnya sudah lama jadi incaran aliansi musuh Allah SWT yakni kelompok gabungan antara kelompok liberal, kelompok maksiat (prostitusi, perjudian, dan pornografi), kelompok kuffar, dan aparat serta pejabat yang selama ini mendulang uang haram dari perputaran bisnis haram tersebut.
Abdurrahman Wahid saja, gembong kaum liberal dan sekutu Zionis, dengan sangat pede menyatakan jika dirinya sudah 15 tahun berjuang hendak membubarkan FPI. Itu berarti sejak tahun 1993. Padahal FPI baru berdiri tahun 1998. Walau demikian kita hendaknya maklum dengan pernyataannya yang ngawur ini karena memang orang yang sudah kena serangan stroke dua kali biasanya banyak syaraf yang sudah tidak terkoneksi dengan baik. Istilah komputernya sering hang, sehingga harus di-restart atau kalau tidak bisa juga ya di-off-kan saja.
Sejak berdiri pada tahun 1998, FPI memang getol memerangi tempat-tempat maksiat. “Sudah banyak tokoh dan elemen Islam yang menyampaikan amar ma’ruf, maka kami memang mengkhususkan diri pada Nahyi Munkar. Tapi tentu dengan prosedur yang benar secara hukum formal, ” demikian ujar Habib Rizieq.
Keberanian FPI ini dalam menggempur lokasi-lokasi kemaksiatan memang tidak main-main. Rumah-rumah pelacuran, rumah judi, termasuk kantor tempat raja media porno dunia “Playboy”di Jakarta, semua diganyang oleh laskar Islam yang satu ini. Bagi media massa, baik cetak, radio, maupun teve, tindakan FPI tersebut memang merupakan berita yang layak dijadikan tajuk utama. Sayangnya, media-media yang juga banyak disusupi kelompok liberal dan kelompok penyuka kemaksiatan ini yang diekspos adalah kekerasan FPI semata.
Padahal, kekerasan atau penyerbuan yang dilakukan FPI merupakan jalan terakhir yang terpaksa diambil FPI setelah melewati berlapis-lapis prosedur, di antaranya mendesak kepolisian untuk berbuat.
“Media massa hanya mengekspos hal itu, tapi tidak memuat apa yang kami lakukan sebelum itu, ” ujar Habib Rizieq dalam sebuah pertemuan beberapa waktu lalu.
Penyerbuan atau pengrusakkan merupakan langkah terakhir yang diambil FPI setelah melewati tahap-tahap sebelumnya. Habib Rizieq memaparkan, “Jika ada informasi yang menyebutkan di suatu tempat ada lokasi yang tidak beres, maka kami biasanya mengirim intelijen kami yang terdiri dari beberapa orang untuk menggali informasi yang valid. Jika benar itu tempat yang tidak beres, maka ada dua pengelompokkan yang FPI lihat. Jika tempat maksiat itu didukung warga sekitar dalam arti banyak warga sekitar yang mencari nafkah di sana dan menggantungkan hidupnya di sana, maka kami kirim ustadz untuk memberi pencerahan. Ini sisi amar ma’ruf FPI. Kami mendirikan pengajian dan sebagainya.”
“Namun jika tempat maksiat itu ternyata meresahkan warga sekitar, dan banyak yang dilindungi oleh preman terorganisir atau malah ada oknum aparat yang ikut melindungi, maka kami biasanya melayangkan surat pemberitahuan kepada pihak kepolisian agar polisi bisa bersifat pro-aktif. Jika sampai waktu yang kami minta belum ada tindakan apa pun juga dari kepolisian, kami melayangkan surat kembali mendesak agar aparat segera turun tangan. Ini kami lakukan sampai tiga kali. Namun jika aparat ternyata diam terus, tidak menunjukkan itikad baik untuk menyikat kemaksiatan, maka FPI pun segera mengirim surat pemberitahuan bahwa FPI akan mengirim laskarnya ke tempat tersebut untuk membantu tugas kepolisian. Ini semata-mata kami lakukan karena polisi tidak bertindak, ” lanjut Habib.
“Kami membantu tugas kepolisian. Ini patut diberi tekanan. Karena polisi terlalu sibuk sehingga tempat maksiat tersebut tetap berjalan dengan aman dalam meracuni masyarakat, maka laskar kami yang turun. Selain memberi surat kepada polisi, kami pun melayangkan surat pemberitahuan berlapis-lapis kepada pengeloal tempat kemaksiatan itu, dan biasanya mereka membandel karena menganggap polisi saja tidak berani membereskannya, apalagi FPI. Tapi sekali lagi saya tekankan. FPI berjuang untuk menegakkan agama Allah, jadi kami tidak kenal takut terhadap segala kemaksiatan. Mereka yang berada di jalan setan saja berani, masak kami yang berjaung di jalan Allah harus takut?” tegas Habib.
“Sisi inilah yang jarang diekspos media massa sehingga masyarakat banyak tahunya kami ini organisasi anarkis. Padahal kami telah melakukan berlapis-lapis peringatan, bahkan berkoordinasi dengan kepolisian dan sebagainya, ” tambah Habib.
Sebenarnya, media-media massa di negeri ini banyak yang mengetahui hal tersebut. Namun disebabkan mereka memang banyak yang berkepentingan agar FPI bubar, maka yang diberitakan adalah sisi kekerasan dari FPI. Padahal, FPI hanya membantu tugas kepolisian yang terlalu sibuk dengan tugas-tugas rutin seperti “razia” di jalan-jalan dan sebagainya. (rz)

Lima Kelompok Golongan Syuhada

قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ، وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ، فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ، ثُمَّ قَالَ الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ، الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِيقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. (صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :"Ketika seseorang berjalan di jalan, ia menemukan ranting kayu yg penuh duri, lalu ia menyingkirkannya, maka Allah berterimakasih padanya, maka Allah mengampuni dosa dosanya, lalu Rasul saw meneruskan sabda nya : Syuhada adalah lima : orang yang wafat terkena sakit Tha;un, dan orang yang wafat terkena sakit diperutnya, dan orang yang wafat tenggelam, dan orang yang wafat terkena reruntuhan/longsor, dan orang yg wafat dalam peperangan di Jalan Allah” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Limpahan puji kehadirat Allah Maha Raja langit dan bumi, Sang Pemilik kesucian jiwa, Yang Maha Menenangkan sanubari dengan cahaya keindahan-Nya, Yang Memuliakan kehidupan hamba – hambaNya dengan cahaya tuntunan Sang Nabi, Sayyidina Muhammad (Saw), Syafii’una Muhammad, Maulana Muhammad, Shallallahu wasallama wabaaraka alaihi wa alaih.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,Allah Swt Maha Raja alam semesta selalu menerbitkan kemuliaan dan menawarkan pengampunan dan matahari kebahagiaan dunia dan akhirat adalah milik-Nya Yang Maha Abadi, Maha Tunggal dan Maha Sempurna, Maha Suci dan Maha Menguasai kemuliaan dunia dan akhirat, Maha Siap Membagi – bagikan Pengampunan dan Kasih Sayang-Nya kepada hamba – hamba yang mau membuka sanubarinya dan mengagungkan lisannya dengan memanggil Nama Allah dan mengagungkan hari – harinya dengan perbuatan yang luhur, dengan perbuatan yang suci untuk membenahi dirinya dengan keridhoan Allah, menghiasi hari – harinya, menghiasi dirinya, menghiasi lisannya, menghiasi penglihatannya, menghiasi pendengarannya, menghiasi nafasnya dengan keindahan Allah, menghiasi jiwanya dengan keindahan Allah, menghiasi sanubarinya dengan keindahan Allah, menghiasi siang malamnya dengan keridhoan Allah, Maha Tunggal dan Maha Abadi, Maha Berjasa kepada seluruh makhluk-Nya.
Hadirin – hadirat, menghiasi hari – hari kita dengan keridhoan Ilahi, menghiasi jiwa kita dengan Cahaya Ilahi, menghiasi lisan dan seluruh tubuh dan jasad kita dengan Cahaya Ilahi. Tentunya Allah telah menciptakan satu cahaya yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat, membawa kebahagiaan dan menjadi terbitnya keridhoan Allah dunia dan akhirat, ialah Sayyidina Muhammad Shallallahu wasallama wabaaraka alaihi wa alaa alih. Sebagaimana firman-Nya “..wa siraajan munira” pelita yang terang – benderang bercahaya Nabiyyuna Muhammad Shallallahu wasallama wabaaraka alaihi wa alaa alih, Yang Allah simpan seluruh cinta dan mahabatullah pada gerak – gerik Muhammad Rasulullah Saw. “Qul in kuntum tuhibbuunallah fattabi’uuni yuhbibkumullah” katakanlah jika kalian betul – betul mencintai Allah, jika kalian mendambakan Allah maka ikutilah aku (Nabi Muhammad Saw); QS. Al Imran : 31. Menunjukkan pada gerak – gerik Sang Nabi Saw itulah tersimpan cahaya kecintaan Ilahi. Dalam tuntunannya, dalam bimbingannya, dalam cinta kepada beliaulah kesempurnaan iman.“Laa yukminu ahadukum hatta akuunaa ahabba iayhi min waladihi wa waalidiihi wannaasi ajma’in”
Hadirin – hadirat, sampailah kita kepada hadits mulia yang mana telah kita baca bersama riwayat Imam Bukhari didalam Shahihnya bahwa Rasul saw menyampaikan suatu cerita dan suatu kabar. “Ketika seorang lelaki melewati sebuah jalan, lalu ia melihat ranting yang penuh dengan duri seraya menyingkirkannya dari jalan. Fasyakarallahu lahu, faghafara lahu”. Kita lihat kalimat ini, Allah berterima kasih kepadanya sehingga Allah mengampuninya. Kita lihat siapa yang berterima kasih?, Dialah (Allah). Apa untungnya bagi kita menyingkirkan ranting berduri dari jalan, barangkali yang lewat cuma hewan, barangkali yang lewat cuma orang – orang yang berdosa, ataupun tidak ada yang lewat sama sekali di jalan itu. Namun perbuatan mulia yang muncul dari jiwa dan niat yang suci, tidak akan didiamkan oleh Allah. Bukan perbuatan tangan mengangkat ranting dan menyingkirkannya, tapi jiwa yang bergetar (tergerak utk berbuat baik) yang dilihat oleh Rabbul Alamin Swt yang membuat Allah Swt menyampaikan bahwa niat orang itu dengan perbuatannya membuat Allah berterima kasih kepadanya.
“Fasyakarallahu lahu, faghafara lahu” Allah berterima kasih padanya sehingga Allah mengampuninya. Allah Swt Maha Berterima kasih atas kebaikan hamba-Nya kepada makhluk Allah yang lainnya. Inilah keindahan Allah Yang Maha Indah, inilah perbuatan Yang Maha Indah, inilah Kasih Sayang Yang Maha Indah, sehingga didalam menyingkirkan ranting berduri saja sudah tersimpan Pengampunan Ilahi. Dalam gerak – gerik kita, dalam melangkah menuju majelis ini, Sebagaimana hadits yang kita baca minggu yang lalu bahwa Allah mengharamkan setiap kaki yang terkena debu dalam menuju ke jalan Allah, menuju shalat jum’at, menuju majelis, menuju tempat dzikir, sebagaimana Allah membiarkan (menyampaikan) hal itu dan disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw dan Allah mengharamkan setiap anggota sujud terkena api neraka. Dan demikian banyaknya, berpuluh ratus ribu hadits nabawiy dan ayatul qur’aniyyah yang menyampaikan kepada kita akan kelembutan Rabbul Alamin dan Jasa-Nya kepada kita. Dan tawaran lamaran cinta Rabbul Alamin selalu ditawarkan dalam setiap kehidupan kita kepada setiap hamba – hambaNya. Beruntung mereka yang mau menerima tawaran pengampunan. (ketahuilah) Yang Maha Mengampuni menawarkan pengampunan-Nya, Yang Maha Baik menawarkan surga-Nya yang abadi, Yang Maha Memiliki kebahagiaan dunia dan akhirat menawarkan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi yang menginginkannya.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,“Alladziina kafaruu wa shadduu ‘an sabiilillah adhalla a’maalahum; walladziina aamanuu wa ‘amiluushshaalihaati wa aamanuu bimaa nuzzila ‘alaa muhammadin wahuwal haqqu min rabbihim, kaffara ‘anhum sayyi;aaatihim wa ashlaha baalahum” Mereka yg menolak ajakan Allah dan berpaling dari ajakan Allah swt maka dihapuslah amal pahala mereka, dan orang – orang yang beriman dan beramal shalih dan mengikuti apa – apa yang diturunkan kepada Muhammad Saw, Allah kikis dosa – dosa mereka (dengan amal – amal mereka, dengan perbuatan mereka, dengan ibadah mereka, dengan shalatnya, dengan puasanya, dengan zakatnya, beramal yang fardhu dan sunnah, perbuatan baik yang besar atau yang tampak remeh (sekedar menyingkirkan ranting saja) terus Allah Swt mengikis perbuatan dan dosa – dosa mereka); QS. Muhammad : 1-2.
“Kaffara ‘anhum sayyiaatihim”. (Allah kikis keburukan mereka) Karena sayyiaat itu adalah hal yang hina. Bisa berupa perbuatan dosa, bisa dosanya. Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, berbeda dengan dzunuub (yaitu) adalah dosanya, kalau sayiat itu adalah perbuatan perbuatan buruknya, bisa berupa wujud dosa, bisa perbuatan dosanya. Hadirin – hadirat, kalau seandainya Allah menghapuskan dosanya saja, Allah tidak menghapuskan sifat dan keinginan buruknya maka orang ini akan terus dalam dosa. (namun) Semakin ia menerima tuntunan Sang Nabi Muhammad Saw, menghiasi dirinya dengan sunnah Sang Nabi saw dan keindahan Sang Nabi saw maka Kaffara ‘anhum sayyiaatihim” Allah menghapus (sedikit demi sedikit) hal – hal yang buruk dari dosa – dosanya dan dari segala sifat buruknya. (misalnya hati kita berkata) Saya selalu menjalankan sunnah, tapi kenapa masih banyak tersisa sifat – sifat buruk dalam diri saya? Pertanyaan itu adalah hidayah dari Allah. Pertanyaan didalam diri kita, kenapa kita mesti berbuat dosa? Menunjukkan hidayah dari Allah memberi Cahaya didalam jiwa, memberi kefahaman didalam hati bahwa kita masih banyak berdosa. Jauh lebih beruntung dari orang lainnya yang tidak pernah merasa berbuat dosa dan ia terus berbuat dosa. (misalnya hatinya bekata) Cukup sudah aku istighfar atas dosaku. Namun kalau kita sudah berusaha menghindari hal – hal yang hina, didalam diri masih ada haus dan tidak puas dengan amal – amal yang shalih hingga hati masih menjerit mengatakan “kenapa aku masih berbuat dosa?” justru itulah daripada Cahya Rabbul Alamin yang berpijar dari hatimu, yang tidak pernah ingin hal – hal yang hina ada dalam diri kita dan itulah tanda dari Allah Swt yang sedang menerbitkan Cahaya Keindahan-Nya pada jiwamu. (diperjelas dg kalimat terpaut pada ayat tsb (Wa ashlaha baalahum : Allah perbaiki keadaannya, yaitu Allah perbaiki fikiran dan keadaan hidupnya, dg mengikuti tuntunan Nabi saw)
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,Demikian indahnya sunnah Nabi kita Muhammad Saw dan Rasul meneruskan sabdanya “tsumma qala asysyuhada khamsatun” lantas Rasul berkata Syuhada itu ada 5 yaitu “almath’un, walmabthun, walghariiq, washahibulhadm, wasysyahidu fii sabiilillah”. Demikian sabda Sang Nabi saw yang baru saja kita baca. Bahwa orang yang mati syahid itu ada 5 didalam hadits ini. Al Imam Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Nawawi didalam Syarh Nawawi ala Shahih Muslim mengatakan lebih dari 7 kelompok orang yang mati syahid. Akan tetapi didalam hadits riwayat Shahih Bukhari ini disebutkan 5. Riwayat Shahih Muslim menulis lebih dari 7 dan didalam riwayat lainnya lebih banyak lagi.
Yang pertama “almath’un” orang yang wafat karena terkena wabah tha’un. Dimasa itu ada yang menyebut wabah tha’un itu adalah wabah penyakit yang menimpa suatu negeri atau di satu wilayah dan yang wafat bisa ratusan ribu orang. Dahsyat sekali wabah tha’un ini, biasanya datang 8 tahun sekali atau 10 tahun sekali di masa itu. Rasul berkata bahwa yang wafat terkena wabah tha’un maka ia syahid. Namun sebagian ulama mengatakan bahwa semua yang bersifat wabah penyakit, jika ia wafat terkena wabah itu maka ia tergolong kepada hadits ini dan di masa itu tidak ada wabah penyakit yang membunuh terkecuali wabah penyakit tha’un. Dan sebagian ulama mengelompokkan semua yang wafat terkena wabah penyakit (yg mematikan) maka ia dikelompokkan didalam syuhada.
Yang kedua “almabthun” orang yang wafat karena sakit di perutnya. Apakah itu berupa ususnya, jantungnya atau lambungnya atau ginjalnya. Semua yang ada penyakit di dalam perutnya dan wafat karena itu maka ia wafat dalam keadaan syahid. Dan termasuk juga wanita yang wafat dalam keadaan hamil. Demikian ucapan Imam Nawawi didalam Syarh Nawawi alam Shahih Muslim. Orang yang hamil masuk kedalam kelompok ini, karena ia wafat dalam keadaan hamil (dikelompokkan yg wafat terkena sakit diperutnya) maka ia dikelompokkan bersama para syuhada yang wafat dalam syahid.
Yang ketiga “alghariiq” orang yang wafat tenggelam. Orang yang wafat tenggelam selama ia muslim maka ia wafat dengan kemuliaan syahid.
Yang keempat “shahibulhadm” orang yang wafat terkena reruntuhan bangunan. Apakah itu berupa tanah longsor, apakah berupa reruntuhan bangunan atau lainnya. Selama ia tertimpa sesuatu reruntuhan maka ia wafat dalam keadaan syahid.
Yang kelima “syahid fii sabiilillah” orang yang berjihad di jalan Allah. Hadirin syuhada ini terdapat 2 kelompok (yg diakui oleh Allah, dan kelompok yg ketiga tidak diakui sebagai syahid oleh Allah walau diakui manusia karena diluar pengetahuan mereka) yaitu kelompok yang pertama ada 3 kelompok yakni Syahid Addunya, (yg tidak diakui Allah sebagai syahid) ia syahid didunia tapi bukan syahid di akhirat, dan Syahidul Akhirah, ia bukan diperlakukan syahid di dunia tapi ia syahid di akhirat, dan. Syahiduddunya wa Syahidul Akhirah (ia syahid di dunia dan yaumal qiyamah). Yang syahid didunia dan akhirat siapa? Yaitu orang yang mati syahid karena membela Allah Swt, membela agama Allah atau mati karena membela keluarganya, masyarakatnya dari serangan musuh yang bersenjata lalu ia melawan hingga ia wafat, maka wafatnya syahid di dunia dan akhirat. Maksudnya apa? Di dunia tidak perlu dishalatkan, tidak perlu dikafani, kenapa? karena sudah mati syahid. Di akhirat bersama para syuhada. Ada syahid di dunia yaitu yang mati syahid tapi di dunia saja. Ia ikut peperangan di dunia tapi bukan untuk membela agama Allah, barangkali karena emosinya, karena gengsinya, teman – temannya ikut berperang ia ikut saja. Hal seperti ini, di dunia diperlakukan seperti syuhada, tidak dishalatkan karena orang – orang tahunya ia mati syahid tapi di akhirat bukan bersama syuhada karena niatnya bukan untuk membela Allah dan Rasul-Nya. Ada syahidul akhirah adalah orang yang mati syahidnya dalam kelompok yang saya sebutkan tadi selain berperang di jalan Allah yaitu yang tenggelam, yang terbakar didalam Shahih Muslim disebutkan juga termasuk yang wafatnya terbakar, terkena reruntuhan. Mereka dishalatkan, diperlakukan seperti wafatnya seorang muslim namun di akhirat bersama para syuhada. Dan juga tentunya kelompok yang bersama mereka adalah mereka yang mencintai para syuhada.
Hadirin – hadirat, ingat janji Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw “almar'u ma'a man ahab” seseorang bersama dengan orang yang ia cintai. Kita punya satu idola yang menjadi Imamussyuhada, Imamul Aulia, Imam dari semua mukminin – mukminat adalah Sayyidina Muhammad Saw. Semoga Allah menerangi jiwa kita dengan cinta kepada Nabi kita Muhammad Saw yang dengan itu Allah membuka tabir cinta kita kepada Allah Swt.
Ya Rahman Ya Rahim, kami bermunajat kehadirat-Mu, memohon kepada-Mu Yang Maha Luhur, kepada-Mu Yang Maha Indah, Wahai Yang Maha Indah terangi jiwa kami dengan keindahan Nama-Mu, terangi jiwa kami dengan keindahan pengampunan-Mu, terangi jiwa kami dengan keindahan khusyu’, terangi ruh kami dengan kecintaan kehadirat-Mu, terangi hari – hari kami dengan kebahagiaan dan kemakmuran. Ya Dzaljalali wal ikram, jadikan malam ini malam yang paling banyak Kau limpahkan anugerah kepada kami. Ya Rahman Ya Rahim dhahiran wa bathinan dunia wal akhirah, jadikan malam esok lebih banyak lagi anugerah yang Kau limpahkan. Ya Rahman Ya Rahim jadikan hari – hari kami bagaikan gelombang keimanan yang terus berlipat ganda lebih dari rahasia samudera anugerah-Mu Yang Maha Luhur dan tiada pernah berhenti. Ya Dzaljalali wal ikram, Wahai Nama-Mu Yang Maha Indah dan Maha Luhur, ketika kami memanggil Nama-Mu maka Engkau melihat dan memuliakan kami dengan sedemikian anugerah, sedemikian pengampunan, sebagaimana firman-Mu didalam hadits qudsiy wahai keturunan adam jika kau berdoa dan berharap kepada-Ku, Ku-hapus dosa kalian tanpa Ku-perdulikan lagi. Demikian janji Rabbul Alamin bagi mereka yang menyeru Nama-Nya dan berdoa kepada-Nya dan bermunajat kepada-Nya.
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,Kita memanggil Nama Allah, kita bermunajat kehadiratullah, hadirkan seluruh hajat-Mu, hajat yang kita ketahui dan yang belum kita ketahui agar diijabah oleh Allah. Segala musibah yang akan datang dalam kehidupan kita agar digantikan oleh Allah dengan Rahmat dan Inayah. Limpahkan Kasih Sayang-Mu pada setiap nafas kami, jadikanlah siang dan malam kami dilimpahi Rahmat-Mu lebih dari usia kami yang lalu yang barangkalai penuh dosa dan kekhilafan. Kami memohon doa agar Kau maafkan seluruh catatan dosa kami dan menjadi catatan taubat, jadikanlah nafas kami adalah nafas munajat, nafas yang selalu merintih memanggil Nama-Mu Yang Maha Luhur. Kau Yang Maha Membolak – balikkan seluruh keadaan kami dan Maha Menghapusnya dan Maha Menggantikannya. Sebagaimana firman Allah “mereka – mereka yang bertaubat dan beramal shalih dan yang mau menyesali doanya, Allah ganti dosanya dengan pahala. Pastikan seluruh wajah kami ini keluar dari majelis ini sudah tidak lagi ada padanya sebutir dosa. Ya Rahman Ya Rahim gantikan seluruh dosa kami dengan pahala. Inilah doa dan inilah munajat.
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah.. Ya Rahman Ya Rahim
Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah
Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah, kita juga berdoa agar Allah Swt melimpahkan Rahmat dan Keberkahan pada guru kita fadhilatul sayyid adda’ilallah Al Habib Musthofa Alaydrus matta’nallahu bihi didalam dakwah dan hari – hari beliau. Ya Rahman Ya Rahim, dan semoga acara beliau 11 Ramadhan diberi kesuksesan oleh Allah Swt. Bagi yang mempunyai kesempatan, hadir ke majelis beliau. Sebagaimana beliau datang mengundang kita, beliau datang mengundang tidak dengan kertas tapi beliau datang mengundang sendiri dg hadir ke majelis kita. Kita semua hadir Insya Allah bagi yang mempunyai waktu.
Dan juga kita berdoa semoga Allah Swt memberi kesuksesan pada malam nisfu sya’ban yang akan kita adakan di Monas. Semoga Allah Swt memberikan kesuksesan pada acara ini. Kabar telah disampaikan kepada Guru Mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidz bahwa jamaah akan berkumpul malam nisfu sya’ban di Monas untuk berdoa dengan doa nisfu sya’ban dan dzikir jalallah. Dan beliau gembira mendoakan majelis ini, semoga Allah Swt memberikan kesuksesan dan menjadikan malam nisfu sya’ban ini malam munajat, malam curah dan tumpahnya airmata pemuda – pemudi muslimin – muslimat dan agar Allah melimpahkan kedamaian di bumi Jakarta khususnya dan bagi bangsa Indonesia muslimin terbesar di muka bumi ini. Dan dijauhkan dari segala musibah, disingkirkan dari segala keburukan. Ya Rahman Ya Rahim dan kita teruskan acara ini, sekaligus saya mengumumkan Insya Allah setiap hari ahad sore pukul 14.00 di markas Majelis Rasulullah, majelis nisa tidak dihentikan tapi dilanjutkan dan saya sendiri yang akan mengajarnya. Ada yang bertanya apakah Majelis Rasulullah bulan puasa diliburkan? Insya Allah majelis ini terus berlanjut selama bulan Ramadhan karena demi dakwah Nabiyyuna Muhammad Saw dan kita lanjutkan dengan doa untuk muslimin – muslimat agar Allah beri pertolongan. Dan bersabda Nabi kita Muhammad Saw barangsiap yang emndoakan saudara muslimnya dan malaikat berkata “amin walaka mitsluh” amin dan untukmu sebagaimana doamu untuk saudaramu. Jika kau berdoa untuk seluruh muslimin maka tumpah ruahlah seluruh keberkahan. Amin allahumma amin. Tafadhol masykura
Washallallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

'Izzul Islaam wal Muslimiin

Oleh : Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab (Ketua Umum FPI)
Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa kemenangan Rasulullah saw dan kaum muslimin dalam Perang Badar pada 17 Ramadhan 2 H, mengundang reaksi sinis Yahudi dari anak suku Qoinuqo'. Mereka menyatakan kepada Nabi saw : "Hai Muhammad, jangan terlalu bangga, sesungguhnya engkau bertemu dengan suatu kaum yang tidak punya pengetahuan apa pun tentang perang, sehingga engkau mendapat kesempatan menang dari mereka. Sedang kami, demi Tuhan, jika engkau memerangi kami, niscaya engkau akan tahu bahwa sesungguhnya kami adalah manusia yang sebenarnya !"
Namun, Rasulullah saw tidak mengambil hati dengan tantangan dan cemoohan tersebut, karena beliau berjiwa besar dan penyabar.
Lalu dalam riwayat Ibnu Hisyam diceritakan bahwa sebulan setelah Perang Badar, yaitu pada pertengahan bulan Syawwal 2 H, seorang wanita muslimah yang sedang berdagang di Pasar Qoinuqo' diusili oleh seorang pedagang Yahudi sehingga tersingkap auratnya, ketika wanita tersebut marah ia justru ditertawakan orang-orang Yahudi sepasar. Bersamaan dengan itu, seorang pemuda muslim yang melihat kejadian itu ikut marah, lalu ia menghardik si Yahudi yang usil tadi bahkan akhirnya ia membunuhnya. Orang-orang Yahudi di pasar tersebut murka dan ramai-ramai mengeroyok si pemuda serta membantainya.
Peristiwa tersebut menggemparkan Kota Madinah, dan sampai kepada Rasulullah saw. Beliau pun mengumpulkan para Sahabat untuk meneliti sabab musabbab terbunuhnya seorang muslim di Pasar Yahudi Qoinuqo'. Setelah melalui penyelidikan yang cermat dan mendalam, akhirnya Rasulullah saw menyimpulkan bahwa Yahudi Qoinuqo' telah melanggar perjanjian antara mereka dengan kaum muslimin, dimana telah disepakati sejak kedatangan Rasulullah saw ke Madinah bahwasanya mereka dan kaum muslimin tidak boleh saling mengganggu atau membantu pihak lain yang mengganggu.
Selanjutnya, Rasulullah saw memakai baju perangnya memimpin kaum muslimin untuk memerangi Yahudi Qoinuqo'. Selama 15 malam, wilayah Qoinuqo' dikepung oleh kaum muslimin, ternyata mereka yang semula sombong dengan keberanian dan kegagahan, kini ketakutan dan tidak berani untuk melawan, sehingga akhirnya mereka menyerah dan diusir dari Madinah ke Khaibar tanpa pertumpahan darah. Sekali lagi Rasulullah saw menunjukkan kebesaran jiwanya dalam menghadapi Yahudi Qoinuqo'. Namun demikian, hukum tetap ditegakkan terhadap pengkhianat perjanjian dengan tidak mengizinkan Yahudi Qoinuqo' tinggal di sekitar Madinah lagi. Inilah ketegasan Rasulullah saw terhadap pengkhianatan.
Dari fakta sejarah di atas, ada satu pelajaran penting tentang 'Izzul Islam wal Muslimin (Kemuliaan Islam dan Muslimin). Betapa Rasulullah saw tidak membiarkan gangguan fisik dalam bentuk apa pun terhadap kaum muslimin. Mengganggu seorang wanita muslimah berarti mengganggu seluruh kaum muslimin. Melecehkan kehormatan seorang wanita muslimah berarti melecehkan kehormatan Islam dan kaum muslimin.
Tindakan yang diambil Rasulullah saw bukan hanya untuk membela dan menjaga kehormatan si muslimah tersebut, tapi juga untuk membela dan menjaga kehormatan seluruh muslimah agar tidak pernah lagi dilecehkan oleh siapa pun di kemudian hari. Bahkan untuk membela dan menjaga kehormatan Islam dan kaum muslimin selamanya. Karena itulah, Nabi saw tidak pernah menyalahkan sang pemuda muslim yang membunuh si pedagang Yahudi yang usil dan jahat tersebut.
Kini, mari kita renungkan, andaikan Rasulullah saw saat ini hidup di tengah-tengah kita ( - tentu saja ruh beliau selalu hidup di tengah umatnya - ), lalu melihat apa yang dilakukan Israel kepada umatnya di Gaza. Apa gerangan kiranya yang akan dilakukan Rasulullah saw ?!
Di Gaza, rumah-rumah kaum muslimin diluluh-lantakkan, masjid-masjid dihancurkan, harta benda dimusnahkan, jiwa raga dilenyapkan. Bom-bom kimia dijatuhkan, ribuan umat Islam terluka, bahkan tewas. Orang tua tak berdaya dianiaya, wanita-wanita lemah dibunuh, anak-anak tak berdosa dibantai.
Belum lagi Si gadis kecil mungil berusia 4 tahun, Syahd namanya, ditembak saat sedang bermain, lalu dijadikan santapan anjing. Masih ada lagi anak-anak tak berdosa lainnya yang kehilangan tangan dan kaki atau anggota tubuh lainnya, bahkan ada yang kehilangan kepala. Ya Rabb !
Sementara Gaza berduka, masih saja ada umat Islam yang sibuk membela Israel dan menyalahkan Hamas. Bahkan ada yang menyalahkan bangsa Palestina secara keseluruhan. Ada yang menyebut Palestina keras kepala tidak mau berdamai dan mengakui Israel, lainnya lagi menyebut Palestina sebagai sumber petaka dan maksiat. Ada lagi yang menghina bahwa Palestina adalah bangsa yang kotor dan jorok serta tidak tahu diri.
Selain itu, masih juga ada umat Islam yang menyatakan bahwa pengiriman Mujahidin ke Palestina sebagai tindakan gegabah dan hanya menambah beban masalah. Ada pula yang menyindir bahwa demonstrasi untuk solidaritas Palestina sebagai tindakan tak berarti. Sedang pemboikotan produk Israel atau produk negeri yang mendukung Israel dikatakan sebagai kurang kerjaan dan hanya bikin susah diri sendiri. Bahkan bantuan kemanusiaan untuk Gaza pun dicerca dengan alasan di dalam negeri masih lebih membutuhkan.
Masih ditambah lagi dengan sebagian umat di dalam mau pun di luar negeri, yang menjadikan Palestina sebagai komiditas politik untuk kepentingan politik sesaat. Bahkan ada yang cari keuntungan dan popularitas di tengah duka Gaza.
Sementara di antara mereka yang sudah bagus sikapnya dalam kepedulian terhadap Palestina ada yang tidak kompak. Hanya mau kerja sendiri, karena merasa besar dan kuat. Bahkan ada yang merasa caranya adalah yang paling bagus dan paling benar, sedang cara yang lain salah dan tidak berguna.
Laa ilaaha illallaah... ! Astaghfirullaah. ..! Sampai kapan umat terus berdebat ?! Hanya bicara tanpa berbuat ! Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Rooji'uun... !
Padahal, apa saja yang kita lakukan untuk mendukung Palestina, selama tidak langgar syariat, dari mulai Doa, Acara Amal, Boikot, Demo, Bantuan Kemanusiaan, sampai kepada Pengiriman Mujahidin, semuanya bagus, penting dan pasti manfaat. Yang penting, lakukan saja semampu kita dengan ikhlas karena Allah SWT. Jangan mencela dan jangan sekali-kali merasa kepeduliannya lebih baik dari yang lain. Bangunlah kebersamaan dan kerjasama dalam cinta dan kasih persaudaraan Islam.
Di tengah hiruk pikuk perdebatan tak berarti, datang berita dari Asy-Syeikh Muhammad Al-Hasan Ad-Daduw melalui salah satu stasiun televisi Arab, beliau mengatakan bahwa seorang Ulama di kota Riyadh - Saudi Arabia mengabarkannya bahwasanya ia telah mimpi bertemu dan melihat Rasulullah saw dalam keadaan marah, beliau berkemas dan memakai pakaian perangnya, lalu sang Ulama dalam mimpinya bertanya : "Hendak kemana gerangan anda wahai Rasulullah ?" Beliau pun menjawab : "Ke Gaza !"
Barangsiapa yang melihat Rasulullah saw dalam mimpi, maka berarti ia telah melihatnya dengan sesungguhnya, karena syetan tak kuasa untuk menyerupai Rasulullah saw dalam mimpi sekali pun, sebagaimana diberitakan Nabi saw dalam suatu haditsnya.
Ya Rabb ! Dalam mimpi pun Rasulullah saw sangat peduli kepada umatnya, bahkan tetap memakai baju perangnya untuk 'Izzul Islam wal Muslimin.
(sumber Tabloid SUARA ISLAM edisi 60 tgl. 10 - 24 Shafar 1430 H / 6 - 20 Februari 2009 M)

Sikap FPI tentang Kebiadaban Pemerintah Komunis China Terhadap Muslim UIGHUR Di Xinjiang

Sejak tahun 840 M bangsa Uighur telah menetap di Xinjiang sebagai negeri dan tanah air mereka sendiri, dan sejak tahun 950 M mereka telah memeluk agama Islam. Namun di tahun 1759 M, Kekaisaran China menyerang mereka dan akhirnya menjajah mereka pada tahun 1877 M. Di tahun 1944 M, bangsa Uighur mendirikan Republik Turkistan Timur di Xinjiang, namun pada tahun 1949 M para pemimpin mereka terbunuh dalam sabotase kecelakaan pesawat terbang, yang kemudian Tentara China dengan mudah melakukan invasi dan agresi militer untuk menduduki dan meguasai Xinjiang kembali hingga sekarang.
Sejak dikuasai China, muslim Uighur di Xinjiang sering dizalimi, seperti diperlakukan kasar, diskriminatif, tidak adil, dilarang ibadah, bahkan ditangkap dan dibunuh. Kini, di awal Juli 2009 M, Pemerintah Komunis China kembali melakukan tindakan represif terhadap bangsa Uighur di Xinjiang, ratusan ditembak mati, ribuan ditangkapi, bahkan Masjid pun ditutup dan Shalat Jum’at dilarang.
Sehubungan dengan peristiwa tersebut, maka Dewan Pimpinan Pusat – Front Pembela Islam menyampaikan pernyataan sikap kepada Pemerintah Komunis China melalui Kedutaan Besar RRC di Jakarta – Indonesia, sebagai berikut :
1. Mengecam dan Mengutuk tindakan Barbar Pemerintah Komunis China terhadap muslim Uighur di Xinjiang.
2. Memperingatkan dengan keras Pemerintah Komunis China untuk segera menghentikan segala bentuk tindakan kejahatan negara China terhadap muslim Uighur di Xinjiang khususnya, dan umumnya terhadap seluruh umat Islam yang berada di negeri China.
3. Menuntut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengusut tuntas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Pemerintah Komunis China terhadap muslim Uighur di Xinjiang, mau pun terhadap muslim lainnya di negeri China.
4. Mendesak Organisasi Konferensi Islam (OKI) agar menyiapkan Tentara Islam Multinasional untuk melindungi muslim Uighur dan kaum muslimin lainnya yang ditindas dan dizalimi musuh-musuh Islam dimana saja.
5. Menyerukan OKI dan PBB agar mengupayakan bagi bangsa Uighur di Xinjiang Hak Kebebasan menentukan nasib sendiri dan Hak Kebebasan menjalankan ibadah agamanya .
Demikian pernyataan sikap ini disampaikan. Dan apabila Pemerintah Komunis China tetap menzalimi muslim Uighur di Xinjiang, sementara OKI dan PBB tidak peduli, maka DPP-FPI menyerukan segenap Mujahidin di seluruh penjuru dunia untuk datang berbondong-bondong ke Xinjiang berjihad membela Islam dan kaum muslimin.
Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !

MILAD FRONT PEMBELA ISLAM (FPI) KE-11


Asumsi SBY Terkait Bom Mega Kuningan Dinilai Terlalu Gegabah

Ahad, 19Juli 2009

Menyikapi Insiden Bom Mega Kuningan FPI sangat berbela sungkawa dan menghimbau umat Islam untuk sentiasa menjaga persatuan dan kesatuan, jangan sampai terpengaruh adu domba pihak yang mencoba mengambil keuntungan pada insiden ini.
Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengaitkan ledakan di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta kemarin dengan hasil akhir pemilihan umum presiden dinilai sangat memperkeruh suasana.
Presiden juga mengatakan aksi teror itu dilakukan oleh kelompok teroris, meski belum tentu jaringan teroris yang dikenal selama ini. Ia tidak menunjuk langsung siapa yang dimaksud, tapi ia mengatakan, "Barangkali di antara kita yang di waktu lalu melakukan kejahatan, membunuh, dan menghilangkan orang, barangkali masih lolos. Kali ini negara tak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita," katanya.
Pernyataan SBY yang mengaitkan Bom Mega Kuningan dengan ketidakpuasan Hasil Pilpres adalah bentuk kepanikan yang sangat emosi & tendensius, sekaligus provokatif & gegabah.
Bahkan terlalu bodoh, karena SBY bisa berasumsi bahwa Bom tersebut sebagai bentuk ketidakpuasan pihak tertentu terhadap Hasil Pilpres. Maka pihak lain pun bisa berasumsi sebaliknya bahwa Bom tersebut sebagai pengalihan perhatian untuk menutupi kecurangan Pilpres, sekaligus sebagai upaya beri kesan terzalimi agar dapat simpatik rakyat sebagaimana kebiasaan SBY selama ini.
Artinya jika bom tersebut dipolitisir, maka siapapun bisa dituduh dengan motifnya masing-masing, termasuk SBY sekalipun. Karena itu, STOP segala bentuk asumsi, dan serahkan saja kepada pengusutan, penyelidikan, dan penyidikan yang berwenang. Jalankan proses hukum yang tegas dan jelas, serta jujur & adil.
Yang jelas kita semua mengecam keras Bom tersebut siapapun pelakunya. Dan apapun motif dan alasannya. Apalagi dilakukan dibulan Rajab yang merupakan salah satu dari 4 bulan suci yang diharamkan terjadi pertumpahan darah. Pelakunya mesti dicari, ditangkap, diadili dan dihukum yang setimpal.
Bukan saja karena jatuh korban nyawa ataupun luka, serta menebar rasa takut secara meluas di tengah masyarakat, tapi juga karena disaat suhu politik memanas, maka Bom tersebut bisa menjadi pemantik adu domba antar anak bangsa sehingga bisa terjadi perang saudara, dan disaat ekonomi negeri sedang ambruk dengan total utang 1700 triliun rupiah, maka Bom tersebut juga bisa buat negeri collaps, Ayo, STOP TEROR BOM ! Lawan segala Kejahatan Kemanusiaan ! Tegakkan Hukum dan Keadilan !